Showing posts with label OPINI PENDIDIKAN. Show all posts
Showing posts with label OPINI PENDIDIKAN. Show all posts

Friday, December 18, 2020

Merayakan HUT “Kolonialisme” di Purbalingga


Purbalingga Doeloe

arifsae.com - Tanggal 18 Desember, setiap tahunnya Kabupaten Purbalingga merayakan hari lahir. Sejak Peraturan Daerah (Perda) No. 15 Tahun 1996, secara sah konstitusional tanggal itu legal di rayakan warganya. Bagi masyarakat Purbalingga, umumnya mereka menyambut baik, tentu saja, karena banyak event yang diadakan oleh Pemkab Purbalingga untuk menyambutnya. Dari pesta rakyat, nikah massal, Purbalingga Fair, dan masih banyak acara lainnya. Tapi tahun ini berbeda, karena pandemi, semua jadi sepi. Baguslah.

Kalau ada acara perayaan-perayaan itu, jelas masyarakat bergembira. Namun, kegembiraan itu nampaknya berbanding terbalik dengan fakta sejarah yang sudah usang dan tidak sesuai lagi dengan jiwa zaman (zeigest) bangsa Indonesia saat ini. Itulah yang saat ini dikampanyekan di sudut-sudut wilayah Republik Indonesia, yaitu membangkitkan spirit nasionalisme dan patriotisme warga negaranya.

Mungkin, spirit inilah yang sudah dilakukan oleh kabupaten-kabupaten di sekitar Purbalingga sebelumnya, seperti Kabupaten Banyumas yang pada tahun 2016 sudah merubah hari jadinya dari 6 April menjadi 22 Februari. Begitupun Kabupaten Banjarnegara, yang tahun 2019 lalu sudah sepakat mengganti hari lahir dari 22 Agustus menjadi 26 Februari. Dibalik itu semua, ada Prof. Dr. Sugeng Priyadi sebagai aktor utama pergantian itu. Beliau guru akademik saya di bangku kuliah.

Lalu, bagaimana dengan Kabupaten Purbalingga? Nampaknya masih terlalu “nyaman” dengan tanggal 18 Desember. Sebenarnya, bagaimana latarbelakang pemilihan tanggal 18 Desember sebagai hari jadi Kapubaten Purbalingga? Pemilihan tanggal itu berkaitan erat dengan peristiwa Perang Jawa atau Java Oorlog (1825-1830) pimpinan Pangeran Diponegoro. Dialah seorang Pahlawan Nasional yang ditetapkan pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppres No. 87/TK/1973. Bahkan, Perang Jawa ini dianggap oleh Belanda sebagai peperangan paling menguras tanaga dan “kantong” mereka.

Di Purbalingga sendiri, perang ini dinamakan “Perang Biting”, berasal dari kata beteng atau benteng yaitu pertahanan dalam perang. Dalam puncak perang di Purbalingga itu, Pasukan Diponegoro melawan pasukan Belanda yang dibantu oleh penguasa lokal (dalam hal ini saya harus jujur, bahwa Bupati Purbalingga waktu itu membantu pihak Belanda) berhadapan di wilayah Kaligondang, Selakambang, Selanegara dan Cilapar. Perang Biting ini baru berakhir setelah tertangkapnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1830.

Setelah Perang Jawa berakhir inilah, babak baru penjajahan kolonial Belanda benar-benar dimulai. Karena Belanda di pihak yang menang, wilayah Kasunanan Surakarta harus diserahkan sebagian kepada pihak Belanda. Proses aneksasi berlangsung dari wilayah mancanegara Kasunanan Surakarta kepada pemerintah Kolonial Belanda, termasuk wilayah Purbalingga. Era inilah yang boleh dikatakan sebagai, “The Real of Colonial atau penjajahan yang sebenarnya”. Karena sebelum kemenangan Perang Jawa itu, praktis pengaruh Belanda hanya pada suksesi kepemimpinan raja-raja Jawa.

Penyerahan kekuasaan atau bahasa halusnya "pengaturan administrasi wilayah" oleh Belanda di tetapkan dengan sebuah surat dari Gubernur Jendral atau Besluit Gouverneur General tanggal 18 Desember 1830 No 1, tentang pengambil alihan kekuasaan atas wilayah-wilayah Vorstenlanden / bekas wilayah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta kepada Belanda. Salah satu wilayah yang terkena aturan itu adalah Kabupaten Purbalingga.

Mengacu pada tanggal 18 Desember 1830 itulah, secara adminstratif wilayah Purbalingga dan sekitarnya "resmi" terbentuk. Dari dokumen inilah, secara data, memang jelas sebuah kabupaten terbentuk secara yuridis. Argemen dokumen dari Belanda inilah pijakan utama penetapan hari jadi. Kalau istilah saya, pijakan "kolonialisme", hal ini karena kekuasaan Kolonial Belanda di Purbalingga dan sekitarnya resmi ditancapkan. Sama seperti Kabupaten Banjarnegara, tanggal 22 Agustus 1830 yang dijadikan hari jadi sangat berbau kolonialisme. Alasan itulah yang membuat kabupaten Banjarngera sekarang sudah merubahnya. Tentu dengan spirit dan jiwa zaman yang lebih nalar.

Jadi dari data 18 Desember inilah, dengan kata lain, penetapan hari jadi Purbalingga ini mengacu pada "serah terima" pengambil alihan wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta oleh pemerintah Kolonial Belanda. Artinya, tanpa sadar, setiap tanggal 18 Desember, warga Purbalingga merayakan kekalahan Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, yang notabene adalah pahlawan nasional dan sekaligus berpesta atas dikuasainya wilayah Purbalingga oleh Kolonial Belanda. Ironis. Mengiris-iris...😂

Mari Berbenah Berubah
Penetapan hari jadi ini nampaknya didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh pemda Purbalingga yang bekerjasama dengan LPM UGM. Penelitian itu terbit pada tahun 1997, tepat satu tahun setelah Perda No. 15 Tahun 1996 tentang penetapan hari jadi. Dalam bukunya, Sejarah Lahirnya Kabupaten Purbalingga, nampaknya para peneliti tidak mau mengambil sumber-sumber lokal dalam kesimpulan penelitiannya. Dalam penelitian itu, menyebut bahwa, cikal-bakal Kabupaten Purbalingga sebelum ada penetapan definitif sebagai kabupaten, yaitu setelah Perang Diponegoro sulit ditemukan arsip atau dokumen sejarahnya (Hlm. 50).

Para peneliti hanya memaparkan sekilas tentang babad sebagai pengantar, tanpa mengambil isinya sebagai rujukan. Bagi para peneliti, data yang kuat adalah yang tertulis, dan yang tertulis itu adalah sumber-sumber dari Belanda. Sebuah babad, meskipun banyak terkandung cerita dongeng atau fiksi, namun disatu sisi banyak “fakta” tersembunyi yang terus lestari turun-temurun. Karena menurut Prof. Taufik Abdullah, ketika sejarah kritis ingin ditulis, maka hal pertama yang harus dihadapi adalah mencari “fakta” dibelakang historiografi tradisional yang menentukan hayat “kewajaran sejarah”, dan tradisi lisan yang merupakan mirage of reality.

Pada intinya, jangan sampai kita merayakan sebuah hari jadi yang merupakan moment untuk menyalurkan pesta tahunan dan sebagai simbolisasi bahwa sebuah kabupaten telah berdiri namun ternyata hanya “pepesan kosong” belaka. Dalam memilih hari jadi, seharusnya berdasarkan data sekaligus kecocokan jiwa lokalitas masyarakatnya dan jiwa zaman yang menjunjung spirit nasionalisme dan patriotisme. Salah satu caranya dengan menggali fakta dibalik babad-babad yang mencerminkan jiwa kearifan lokal setempat.

Babad yang dimaksud adalah Babad Purbalingga, Babad Onje, Babad Jambukarang, dan Babad Banyumas. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Kabupaten Banjarnegara yang  merujuk pada Babad Kalibening sebagai salah satu sumber untuk merubah hari jadinya, dari 22 Agustus menjadi 26 Februari. Mengacu pada tanggal 26 Februari 1571, yaitu saat Jaka Kaiman (Warga Utama II) menyampaikan wasiat dari mertuanya, yaitu Adipati Wirasaba (Warga Utama I) untuk membagi kekuasaan menjadi 4 kadipaten, salah satunya adalah Banjar Patembakan (Banjarnegara).

Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan Purbalingga? mau sampai kapan Kabupaten Purbalingga merayakan hari “kolonialisme” Belanda ini? atau masih ingin melanjutkan tradisi merayakan kekalahan perjuangan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro di Purbalingga? Seharusnya tidak. Mari berbenah bersama-sama untuk berubah, dengan cara menggali akar sejarah lokalitas Purbalingga. Ada versi Ki Arsantaka, ada versi Adipati Wirasaba, ada versi Jambu Karang, manakah yang paling relevan? pembahasan ini kapan-kapan akan saya uraikan. (Kalau malas tidak menyerang. hehe..)

Nampaknya sampai saat ini, politic will dari pemerintah Kabupaten Purbalingga tidak terdengar, masih tetap menggunakan 18 Desember. Jadi kalau masih merayakan HUT dengan tanggal itu, maaf, saya sebagai putera asli Purbalingga, lebih baik menonton sambil ngopi saja, dan mengucapkan selamat HUT "Kolonialisme" di Purbalingga...😁 Tarikkk sis.....[]

Wednesday, October 30, 2019

Mendapatkan Rekor MURI, Guru SILN Dinobatkan sebagai Penulis Catatan Harian Terlama

Piagam MURI Guru SILN

Wednesday, May 29, 2019

Mengawal Suara di Ladang Sabah, Catatan Pemilu Ketua KSK 04


Para Pekerja Migran Indonesia menyalurkan suaranya di Ladang Andamy, Sandakan, Sabah, Malaysia (9/4/2019)
Tanggal 21 Mei 2019 dini hari menjadi babak baru kehidupan berdemokrasi kita, tidak lain karena Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan pemenang Pemilihan Umum 2019. Hasilnya, Ir. H. Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin dinyatakan sebagai pemenang dari kompetitornya, H. Prabowo Subianto dan H. Salahudin Sandiaga Uno.
Prosentase kemenangan 55,50 % berbanding dengan 45,50 %. Hasil inilah cerminan dari proses panjang perjalanan pesta demokrasi kita. Segala upaya, biaya, daya, bahkan nyawa telah di berikan untuk mensukseskan pesta 5 tahunan ini.
Tercatat di data Kemenkes per 17 Mei 2019, bahwa 527 petugas KPPS meninggal dan 11.239 orang sakit. Tidak hanya didalam negeri pengorbanan itu diberikan, untuk menjaga setiap hak suara orang Indonesia, KPU membentuk Panitia Pemunguan Suara Luar Negeri (PPSLN) diberbagai penjuru dunia. Tidak mudah. Karena harus menembus berbagai birokrasi diberagai negara.
Salah satu PPSLN yang dibentuk di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang telah ditetapkan sebanyak 140.878 orang. Untuk TPS yang tercatat sebanyak 26 dan Kotak Suara Keliling (KSK) sebanyak 433 pada tujuh distrik, yaitu Sandakan-Kinabatangan, Kudat, Keningau, Labuan, Beafourt-Sipitang, Bandar Kota Kinabalu 1 dan 2.
Segala tantangan dan hambatan menjadi kendala tersendiri ketika melaksanakan pemilu di luar negeri. Tidak seperti di Indonesia, orang-orang Indonesia yang berada di Sabah telah bercampur dengan penduduk lokal maupun orang Filiphina yang terkadang kita sukar membedakaanya. Dan masih banyak tantangan lainnya.

Tantangan di Ladang
Hari Minggu, 7 April 2019 berkumpul para petugas KSK diseluruh Distrik Sandakan-Kinabatangan di Hotel Livingston, Sandakan. Tujuannya tidak lain mengambil logistik dan kotak suara untuk melakukan pemungutan suara esok harinya.
Pengambilan berjalan lancar, namun ada beberapa kendala. Salah satunya adalah terbakarnya mobil pengangkut KSK yang baru diambil di Sandakan. Peristiwa ini juga saya lihat sendiri, betapa api begitu ganas melumat segala isi, termasuk  mobilnya. Untung saja kawa saya selamat. Kejadian ini terjadi di jalan Jalan Sapi Nangoh-Paitan yang tujuannya akan dibawa ke wilayah kerja Perusahaan Sawit IJM dan Meridian.
Jarak tempuh yang jauh dan human eror menjadi penyebab utamanya. Perjalanan dari pedalaman sawit ke Bandar Sanadakan membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 12 jam perjalanan. Sungguh melelahkan. Sayangnya, di Indonesia sendiri peristiwa ini sudah dijadikan lahan penyebaran hoax.
Berbagai berita negatif dan berbau fitnah tersebar karena berita ini. Padahal peristiwa ini murni karena human eror. Dan sudah ditindak lanjuti oleh KPU RI untuk mengganti segala logistik yang terbakar.
Itu hanya salah satu contoh nyata, betapa pemilihan umum diluar negeri tidaklah mudah. Kerja yang berat ditambah isu yang terus menyerang menjadi ujian tersendiri. Seperti kisah saya sendiri, yang harus menempuh jalanan jauh dan berbatu untuk melayani hak suara mereka.
KSK yang saya pimpin adalah KSK 04 yang terletak di Perusahaan sawit Terusan 2 Estate dibawah naungan Wilmar Plantition. Selain itu, saya harus membantu kawan lainnya di ladang-ladang kecil. Seperti ladang Andamy, Kamansi Dua, dan Hiew Syn Kiong. Dan pemungutan suara itu tidak bisa dilakuakan dalam 1 hari.
Kami diberikan kesempata selama 3 hari untuk keliling ke ladang-ladang sawit itu. Udara panas, dan jarak yang jauh menjadi suguhan wajib. Terlebih lagi ladang kecil, yang terkadang hanya berpenghuni 20-40 orang Indonesia. Namun, mereka punya hak yang sama, selama dia bisa menujukan identitas sebagai Orang Indonesia, maka mereka berhak menentukan pilihannya.
Mereka punya hak untuk mengikuti pesta demokrasi 5 tahunan ini. Disini, mereka hanya mencolos 2 surat suara, yaitu suara pemilihan Presiden-Wakil Presiden dan DPR-RI. Banyak dari mereka yang tak paham, siapa orang yang didalam surat suara itu. Namun, dengan sosialisasi kecil-kecilan, semua berjalan lancar.
Tugas kami selesai ketika penyerahan kembali kotak suara ke Sandakan untuk kemudian dihitung di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kota Kinabalu, Sabah. Tepat tanggal 17 April 2019 penghitungan suara dilakukan. Jarak dari Sandakan ke Kota Kinabalu sekitar 300 km, dan membutuhkan waktu 5-6 jam perjalanan. Di sana, semua petugas TPS dan KSK berkumpul menjadi satu untuk tujuan yang sama, yaitu rekapitulasi hasil dari pemungutan suara di ladang-ladang.
Terhitung 3 hari kami semua melakukan kegiatan itu, saya sendiri memulai jam 17.00 sore hingga selesai jam 01.00 dini hari. Waktu 7 jam itu hanya 2 surat suara, bisa dibayangkan betapa lelahnya kawan-kawan petugas yang ada di Indonesia karena menghitung 5 surat suara.
Selama proses 3 hari penghitunga suara, dihasilkan 87.227 orang Indonesia menggunakan hak pilihnya dari DPT 140,878. Suara untuk pasangan calon 01 sebanyak 71.109 orang dan pasangan calon 02 sebanyak 15.555 orang, sedangkan sisanya suara tidak sah. Artinya partisiasi orang Indonesia di Kota Kinabalu sebanyak 61,9 %. Prestasi dari partisipasi ini menjadi tanda selesainya tugas kami.

Kembali ke Indonesia Raya
Setelah semua pesta demokrasi ini selesai, bangsa Indonesia harus kembali berdaulat. Jhon Locke pernah mengatakan bahwa, kedaulatan rakyat pada hakikatnya sejalan dengan arti dan makna demokrasi, yaitu sebagai upaya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kedaulatan rakyat inilah yang menjadi kekuasaan tertinggi di negara demokrasi.
Ini menjadi penting, karena kewajiban kita untuk selalu merawat kedaulata rakyat yang hampir lelah diserang bertubi-tubi akibat diserang isu-isu hoax yang berpotensi memecah belah bangsa. Pasca pemilu 2019 ini, semua pihak harus kembali pada persatuan, membangun Indonesia secara bersama-sama, dalam bingkai Indonesia Raya.[]

Saturday, May 11, 2019

Ayo Kita Pulang, Nak...Catatan Kecil Guru Ladang Sawit, Sabah-Malaysia

Bersama Anak-Anak Terusan 2
arifsae.com - Kita tidak pernah bisa memilih darimana kita dilahrkan. Dari orang tua seperti apa, atau dari lingkungan mana. Karena itu semua adalah hak “prerogratif” Tuhan. Tugas kita adalah berusaha menggapai harapan, cita dan asa yang kita impikan, karena sukses merupakan pertemuan antara persiapan dan kesempatan.

Itulah yang menjadi harapan saya. Disini. Di belantara himpitan Pohon Sawit, yang membentang dari ujung hingga ujung Negeri Sabah, Malaysia. Negeri Sabah merupakan wilayah negara bagian dari Kerajaan Malaysia yang termasuk kedalam 13 negara bagian dalam persekutuan Malaysia. Wilayah ini merupakan wilayah terbesar kedua, setelah Sarawak, dalam bagian persekutuan itu. Julukan untuk menggambarkan wilayah ini adalah Negeri di Bawah Banyu (Land Below the Wind).

Di rimbunnya Pohon Sawit Negeri Sabah telah menyimpan berbagai harapan dan kesempatan dari anak-anak “kandung” Indonesia. Iya. Di belantara sawit itu, lahir anak-anak Indonesia yang tak tahu jati diri mereka. Sebagian besar, mereka lahir karena mengikut orang tua yang memilih menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Sabah. Ada yang berdokumen resmi secara legal, namun lebih banyak yang illegal. Mereka datang lewat jalur “Tikus”.

Malaysia merupakan negara favorit bagi para BMI ini. Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) pada tahun 2018, Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia hampir mencapai 3 Juta jiwa. Belum lagi yang tidak resmi. Dari data itu, kita bisa membayangkan berapa banyak orang Indonesia yang mengais rizki di negeri Jiran ini.

Jumlah TKI di Malaysia ini adalah yang terbesar di dunia. Meski banyak dijumpai kekerasan dan kasus, namun tidak bisa disangkal, Malaysia masih menjadi favorit bagi para pemburu kerja dari Indonesia. Alasan yang paling utama adalah faktor Ringgit. Mereka rela meninggalkan Indonesia demi setumpuk materi, dengan secara tidak langsung menelantarkan pendidikan anak-anak mereka.

Pendidikan mereka terlupakan. Ini disebabkan karena di Sekolah Kebangsaan Malaysia, tidak menerima orang-orang yang “berpassport”, apalagi mereka yang ilegal. Sehingga, puluhan ribu anak-anak Indonesai tak bisa menikmati lezatnya bangku sekolah. Salah satunya tentu diwilayah Sabah ini. Itulah mengapa, pemerintah hadir bagi anak-anak Indonesia di Sabah.

Menebar Serpih Asa
Peran pemerintah Indonesa untuk memenuhi pendidikan warga negaranya berlandas komitmen global untuk mencapai sasaran Education for All, yaitu sebuah gerakan untuk memberikan “pendidikan untuk semua”. Pemerintah juga mengeluarkan PP No. 28 Tahun 1990 tentang pendidikan dasar antara 7-15 tahun untuk mengenyam pendidikan wajib 9 tahun, tidak terkecuali mereka yang berada di luar negeri.

Proses pemberian layanan pendidikan di Malaysia tidak mudah, butuh proses yang panjang. Proses itu bahkan sudah dimulai dari era Presiden Megawati Sukarnoputeri pada tahun 2003 silam, dan baru terrealisasi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2006. Dalam kesepakatan Annual Consultations 2006, disetujui akan dikirimnya guru-guru dari Indonesia untuk anak-anak di perkebunan Sawit.

Dari kesepakatan itu, dibentuklah sebuah LSM Humana Child Aid Society tahun 2006. Namun, dilihat dari perkembanganya, hasil output (ijazah) dari Humana tidak bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Indonesia. Hal ini tentu disebabkan “kurikulum” yang digunakan Humana bukan kurikulum Indonesia, melainkan menggunakan kurikulum Malaysia.

Dari keadaan itu, maka secara tidak langsung mendorong terbetuknya Sekolah Indonesia. Dengan surat dari Kementerian Luar Negeri bernomor 120/DI/VI/2008/02/01 tertanggal 16 Juni 2008, yang meminta pada Kementerin Pendidikan dan Kebudayaan untuk mendirikan sebuah sekolah Indonesia di Kota Kinabalu (Red: Ibu Kota Sabah). Hingga akhinrya, pertanggal 1 Desember 2008, diresmikan dan mulai berjalan secara operasional Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Dalam perkembangannya, SIKK hanya bisa melayani anak-anak Indonesia yang berada disekitar Kota Kinabalu dan sekitarnya. Sedangkan anak-anak yang berada di ladang-ladang Sawit belum terjamah. Sehingga dicari sebuah solusi untuk menyediakan akses pendidikan untuk meraka. Karena semangat inilah, didirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau Pusat Pembelajaran Masyarakat (PPM), kalau dalam bahasa Inggris nya, Community Learning Centre (CLC).

Lewat perjanjian antara Presiden SBY dan PM Najib Tun Razak, dalam The 8th Annual Consultations di Lombok pada 20 Oktober 2011 ditanda tangani sebuah kesepakatan secara legal dan formal tentang pendirian CLC tersebut dan efektif berlaku mulai tanggal 25 November 2011.

Pada akhir 2018, sudah didirikan 114 CLC Sekolah Dasar (SD) dan 45 CLC Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang tersebar diseluruh pelosok penjuru Ladang-Ladang Sawit di seluruh Sabah. Kesempatan inilah yang membuat kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Tujuan utama dari program ini tentu tidak lain dan tidak bukan adalah, mengembalikan mereka ke Indonesia. Mengejar mimpi, meraih cita-cita dan menggapai kesuksesan.

Menuju Puncak Cita
Saya teringat pepatah, Harimau tidak akan mendapatkan mangsa apabila tidak keluar dari sarangnya. Begitupun dengan saya, harus keluar “sarang” untuk mendapatkan “mangsa”. Iya, sejak 2017 saya ditugaskan oleh Pemerintah Indonesia menjadi salah satu bagian dari ratusan guru-guru Indonesia yang ditugaskan di CLC-CLC di Sabah.

Tantangan baru yang saya temui tentu tidak akan didapatkan di Indonesia. Ini luar negeri. Ini Malaysia. Ini Sabah. Bahkan, kata kawans saya, “Sabah Keras”. Keras karena disini suhu bisa sangat panas. Bahkan, pernah mendekati 35 derajat Celcius. Keras karena rumah-rumah guru tidak semewah rumah di Indonesia. Jangan membayangkan Sabah seperti wilayah Semenanjung dengan Menara Peronasnya.

Kami, guru Indonesia yang berada di Sabah mendapatkan fasilitas dari Company atau pihak ladang. Kata kawan saya, “Fasilitas yang akan didapat tergantung amal dan perbuatan di Indonesia.” Joks semacam itu kadang membuat kami terawa, memang ada benarnya. Kalau company itu besar, kemungkinan fasilitas juga baik. Namun apabila company itu kecil, bisa dipastikan, hanya pasrah dan doa yang menyertai langkah.

Misalkan, ada yang rumahnya dari kayu dan rusak. Ada yang tanpa sinyal sama sekali. Ada yang listrik hanya 6-8 jam sehari. Bahkan ada yang perjalanan dari jalan besar utama ke rumah menempuh 2 jam. Bagaimana kami memenuihi kebutuhan? Untuk memenuhi kebutuhan kami keluar ladang untuk ke kota (Bandar). Kalau ada toko (kedai) itu bisa menjadi alternatif, tentu dengan harga yang lebih mahal.

Lalu, sekolahannya seperti apa? Sekali lagi, jangan membayangkan sekolah di Indonesia. Kondisi sekolah hampir sama dengan rumah, tergantung Company. Namun ada beberapa perbedaan antara CLC satu dengan lainnya, yaitu jam belajar. Hal ini disebabkan karena harus berbagi jam dengan Humana. Apabila di ladang itu ada Humana, makan bisa dipastikan proses belajar CLC dilakukan siang hari, antara jam 14.00.-17.00 waktu Sabah. Namun, apabila diladang itu tidak ada Humana, pembelajran bisa dilakukan pagi hari.

Kondisi bangunan pun tidak bisa disama ratakan. Ada yang hanya dari kayu, ada juga yang sudah bertembok. Terkadang, yang membuat kami merasa “special” disini karena dituntun untuk menjadi manusia setengah “dewa”. Mengapa? Karena kami harus tau segalanya. Dari urusan sekolah sampai kemasyarakatan. Secara administrasi kami dianggap selayaknya sekolah umum di Indonesia, yang mendapatkan Dana Operasional, menginput Dapodik dan tentu beban se-abreg yang menimpa kami. Dari Kepala Sekolah, Guru, Tata Usaha, kantin, bahkan petugas pembersih jadi satu.

Belum lagi, kami harus menempuh ke Tempat Kegiatan Belajar (TKB), semacam cabang dari CLC, untuk belajar disana. Tidak tanggung-tanggung, puluhan kilometer harus kami tempuh untuk sampai di TKB-TKB itu. Ditambah karena disini kekurangan guru, kami harus meng-handle mata pelajaran yang bukan menjadi passioan kami. tapi itulah keadaan disini, lingkungan dan kondisi geografis yang memaksa kami untuk menikmatinya. Termasuk menikmati proses belajar dengan anak-anak BMI ini.

Kami harus benar-benar memulai dari awal, karena sebagian mereka lahir di Sabah. Tidak tahu kekayaan budaya yang ber-bhinneka di Indonesia. Mereka hanya mengenal asal mereka dari sukunya. Mereka menyebut “suku” dengan sebutan “bangsa”. Apabila ada pertanyaan, “Apa Bangsa kamu?”, mereka akan menjawab, “Bangsa saya Bugis, Bangsa saya Timor, Bangsa saya Jawa.”

Tapi itulah tugas kami disini. Mengenalkan “kecantikan” Ibu Pertiwi, dan membujuk mereka untuk kembali dan membangun negeri. Dengan proses pembelajaran yang seadanya, kami mencoba memaksimalkan segala potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk menggajak mereka kembali ke Indonesia, tentu dengan jalan melanjutkan sekolah di Indonesia. Salah satu caranya dengan program beasiswa.

Meraih Segudang Bahagia
Saat ini, sudah ratusan siswa yang dikembalikan ke Indonesia dengan berbagai program beasiswa. Salah satunya adalah beasiswa repatriasi Sabah Bridge dan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Sudah banyak dari alumnus-alummnus CLC di Sabah yang melanjutkan sekolahnya di Indonesia, bahkan sampai perguruan tinggi.

Sejak tahun 2015-2018, sudah ada 453 peserta didik yang melanjutkan sekolah diberbagai penjuru sekolah di Indonesia. Bahkan sudah ada yang sampai perguruan tinggi bergensi di dalam dan luar negeri. Itulah kebanggaan dan kebahagian tertinggi kami sebagai guru ladang di Sabah, Malaysia ini.

Saya sendiri bertugas di CLC SMP Terusan 2, lokasi yang bernaung di Company Wilmar ini memberikan fasilitas yang memadai. Proses pembelajaran dilakuakn sore hari, karena paginya digunakan oleh Humana. TKB yang CLC Terusan 2 miliki ada 3, TKB Andamy, TKB Terusan 1 dan TKB Rumidi. Dan saya menjadi “pengelola”, semacam kepala sekolah mini dari CLC Terusan 2 sejak 2017 hingga kini (2019).

Meski dengan fasilitas yang serba terbatas, kami selalu menggaungkan dan mengajak mereka untuk selalu berusaha dan membuka mindseet mereka. Minimal, mereka harus berusaha lebih baik dari orang tuannya yang bekerja sebagai BMI di Sabah. Mereka bisa. Mereka mampu. Mereka mau untuk pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Begitulah. Hak-hak mereka sebagai warga negara tetap berusaha dipenuhi untuk mengenyam pendidikan. Sehingga mereka bisa memanen hasilnya kelak, menyimpannya dalam setumpuk gudang bahagia. Tentunya untuk turut serta berkontribusi membangun Indonesia. Tidak ada jalan lain, saat ini, kami sebagai guru, mempunyai kata-kata sakral, “Ayo kita pulang, Nak…”[]

Sunday, January 27, 2019

Ini Nama-Nama CLC SD Se-Sabah dan Sarawak


Lambang Sekolah Dasar
aifsae.com - Dulu saya pernah memposting nama-nama CLC SMP beserta TKB nya DISINIKali ini saya akan membagikan nama-nama Comunity Learning Centre (CLC) SD yang ada di Sabah dan Sarawak, Malaysia. CLC merupakan sekolah Indonesia yang sengaja di dirikan untuk menampung para anak-anak Indonesia di Sabah terutama anak-anak usia Sekolah Dasar.

Oke, langsung saja berikut nama-nama CLC SD Se-Sabah dan Sarawak, yang sampai saat ini (Update 23 Januari 2019) berjumlah 113 CLC.
  1. CLC 25 LADANG CEPAT-KPD
  2. CLC LADANG LUMADAN
  3. CLC ST. FRANSISKO YASINTA
  4. CLC BUDI LUHUR 1 BIAH
  5. CLC BUDI LUHUR BINGKOR
  6. CLC GOOD SAMARITAN
  7. CLC ILHAM INASA
  8. CLC JAVA ETANIA MATAKANA
  9. CLC SERAT BANGSA MAWAU
  10. CLC SLDB DALIT
  11. CLC SLDB INANDUNG
  12. CLC BUDI LUHUR 2 ASBON
  13. CLC PASIR PUTIH
  14. CLC SERAT BANGSA LADANG BONGAWAN
  15. CLC FANTASI GENERASI
  16. CLC SERAT BANGSA LADANG LANGKON
  17. CLC BHINEKA TUNGGAL IKA
  18. CLC CINTA MATA
  19. CLC ST.THOMAS
  20. CLC RUMAH AGAPE 
  21. CLC SD CEMPAKA 
  22. CLC GAMBEN 
  23. CLC NUSA BANGSA 
  24. CLC UNITED MALACCA 1&2
  25. CLC UNITED MALACCA 3&4
  26. CLC MATAKANA
  27. CLC SERAT BANGSA LADANG KIMANIS
  28. CLC TUNAS HARAPAN BANGSA
  29. CLC TENOM 
  30. CLC SOOK OIL PALM
  31. CLC KOTA BELUD 
  32. CLC LADANG ONG YAH HO 
  33. CLC LADANG RESORT 
  34. CLC SABAH TEA 
  35. CLC SD DALIT OIL PALM MILL (DOP)
  36. CLC SERAT BANGSA PITAS
  37. CLC ARUS SAWIT 2
  38. CLC PERDANA TELUPID
  39. CLC ST. JOSEPH PAPAR 
  40. CLC FELCRA ESTET PERTAMA
  41. CLC KAMPUNG MELAYU SULAIMAN 
  42. CLC LADANG ANDAMY 
  43. CLC LADANG KARANGAN ESTATE 
  44. CLC LADANG MASANG 
  45. CLC MONSOK PALM OIL MILL
  46. CLC NUSANTARA 
  47. CLC PAHANG 2
  48. CLC SERAT BANGSA TONGOD
  49. CLC SRI LIKAS MEWAH 
  50. CLC LADANG ABEDON KRETAM
  51. CLC ARUS SAWIT
  52. CLC SERAT BANGSA GOMANTONG
  53. CLC ARUNAMARI 
  54. CLC BUKIT SEGAMAHA 
  55. CLC CERDAS
  56. CLC GRACE CENTRE 
  57. CLC HANIM 
  58. CLC KIM LOONG 
  59. CLC KUARI 3 GUMGUM 
  60. CLC LADANG SUTERA 
  61. CLC SD SUNGAI MENANGGOL
  62. ÇLC TIMORA
  63. CLC KEMAJUAN INSAN INANAM
  64. CLC CAHAYA TAGAS 
  65. CLC DUTA
  66. CLC KRETAM SAPAGAYA 
  67. CLC LADANG NAK 
  68. CLC PKPS JAGOHARMONI 
  69. CLC PKPS IRAT 
  70. CLC SD PROLIFIC
  71. CLC SUNGAI SEGAMAHA 
  72. CLC SAKILAN DESA
  73. CLC LADANG SUNGAI KAWA 
  74. CLC AL ALAQ 
  75. CLC AUMKAR
  76. CLC HIDAYATULLAH SEGARIA
  77. CLC HOLY TRINITY
  78. CLC KOKO INTAN
  79. CLC LAMSOON
  80. CLC LEMBAH DANUM 
  81. CLC SD PUTERA BANGSA 
  82. CLC SERAT BANGSA BONGALIO
  83. CLC SLDB APAS BALUNG 
  84. CLC TECK GUAN 
  85. CLC SERAT BANGSA LADANG BAGAHAK
  86. CLC SERAT BANGSA LADANG SEBRANG
  87. CLC SERAT BANGSA KALABAKAN
  88. CLC SILIM 2
  89. CLC TAMACO CENTER
  90. CLC SLDB LITANG
  91. CLC BENTA BELIAN
  92. CLC SD WINSOME 
  93. CLC LACAK FIDELITY
  94. CLC LADANG TAMACO
  95. CLC TUNAS PERWIRA
  96. CLC BIMA SAKTI BALUNG RIVER
  97. CLC KRETAM SILIMPOPON 
  98. CLC PELITA BANGSA LKSK 
  99. CLC SD FGV BAIDURI AYU 
  100. CLC SD FGV CENDRAWASIH
  101. CLC SD FGV EMBARA BUDI
  102. CLC SD FGV FAJAR HARAPAN 
  103. CLC SD FGV GEMALA PURA 
  104. CLC SD FGV HAMPARAN BADA 
  105. CLC SD FGV JERAGAN BESTARI
  106. CLC SD FGV KEMBARA SAKTI 
  107. CLC SD FGV SAHABAT 46 
  108. CLC INDRA SABAH
  109. CLC BAMBU KUNING 
  110. CLC BUKIT TAJAM
  111. CLC YUWANG TINGKAYU
  112. CLC SELANGAN BATU
  113. CLC SJI
Data ini di dapat dari informasi group tertutup penulis di Sabah

Monday, September 10, 2018

Masuk Nominasi Pemenang Lomba Jurnalistik Pendidikan Keluarga 2018

Nominasi
arifsae.com - Beberapa waktu yang lalu, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Dirjen PAUD dan Dikmas, Kemendikbud mengadakan lomba Jurnalistik tentang keluarga. Ada tiga jenis lomba, pertama Feuture, Opini dan Berita. Nah, saya mengikuti lomba Opini dikoran. Penasaran, karena tahun lalu saya ikut tapi belum berhasil.

Tahun ini saya coba lagi, kali ini tulisan saya dimuat di RMOL.co. Tulisainnya bisa dilihat DISINI. Sebenarnya saya ikutkan tullisan opini dikoran 5 buah, tapi hanya satu yang lolos nominasi. Mungkin secara aturan tidak memungkinkan satu orang mendapatkan dua nominasi.

Dan pada tanggal 9 September 2018 ini para dewan juri mengumumkan hasil lomba nya. Dewan juri lomba berasal dari kalangan jurnalis, akademisi dan penggiat pendidikan keluarga. Sebut saja, redaktur senior LKBN Antara Zita Meirina, Pakar Pendidikan Karakter yang juga penulis opini aktif di Harian Kompas Doni Koesoema, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati, Chief Content Officer Selasar Arfi Bambani.

Saingannya berat, dari informasi, yang mengikuti lomba Opini mencapai 323 naskah, yang berasal dari 26 provinsi. Dan yang mendapatkan nominasi hanya 34 saja. Dan, alhamdullilah, saya ikut bagian dalam menyumbangkan gagasan. 
Dapat Nominasi
Tapi saya tidak berharap terlalu banyak, karena saingannya sangat ketat. Mereka berasal dari berbagai kalangan, ada yang berprofesi sebagai dosen, aktivis, guru, pokoknya ngeri-ngeri saingannya. Bagi saya pribadi, mencapai titik ini saja saya sudah senang. Tapi harapan itu masih ada. Optimis itu perlu.😅

Rencananya, para nominator akan di undang ke Jakarta untuk menghadiri Apresiasi Pendidikan Keluarga pada 24-26 Oktober 2018. Dalam kesempatan itulah, akan diumumkan tiga orang pemenang, dan 7 juara harapan lomba. Semoga bisa hadir kesana dan mendapatkan yang terbaik. Aamiin.
Pengumuman nominator lomba silahkan lihat DISINI.

Monday, July 16, 2018

Mengakhiri Ekspolitasi Politik Pada Anak

Satelitpos 14 Juli 2018

Friday, May 18, 2018

Momentum Reformasi Dunia Pendidikan


Kesenian

Saturday, May 5, 2018

Merajut Sekolah Ramah Anak

Satelitpost, 7 Mei 2018

Wednesday, April 25, 2018

Memupuk Karakter Berbasis Budaya Literer

Opini Satelitpos 25/4/18

Friday, April 6, 2018

Menyemai Nilai Bhinneka dalam Keluarga

Tulisan di Muat
Kondisi Indonesia akhir-akhir ini mengkhawatirkan. Berbagai peristiwa menyiratkan sebagian besar masyarakat sedang terjangkit virus primordialis yang sempit. Kekhawatiran ini dirasakan juga oleh Presiden Joko Widodo. Dalam beberapa pidatonya, beliau sering mengingatkan tentang pentingnya persatuan ditengah kebhinekaan bangsa yang tak bisa dielakan. 

Saat ini, ketika memasuki tahun politik, “cobaan” kebhinekaan sepertinya akan muncul lagi. Nampaknya, kita harus berpegang kepada Spirit Pancasila untuk mengantisipasinya. Sehingga semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terdapat dalam pijakan lambang burung garuda, menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan berbangsa.

Makna dan nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika harus ditanamkan kepada setiap manusia di tanah Indonesia. Semangat kebhinekaan dalam bingkai ke Indonesiaan inilah yang menjadi keabadian integrasi Indonesia. Dilevel inilah fungsi edukasi keluarga hadir, karena dari keluargalah unit pembangun pondasi bangsa yang kokoh dimulai.

Dilingkungan keluargalah, awal tumbuh kembang seorang anak dimulai. Pola hubungan sikap dan perilaku yang dilakukan oleh anggota keluarga, seperti ayah kepada ibu, kakak kepada adik, atau orang tua kepada anak akan mempengaruhi perilaku anak dalam lingkungan sosial masyarakat kedepanya.

Meski sangat vital, tidak banyak keluarga yang menanamkan spirit kebhinekaan dalam setiap interaksi dalam rumah. Banyak unit keluarga yang menerapkan edukasi dengan sistem otoriter tanpa dialog, hal ini akan menjadi pemantik anak tidak mau menerima perbedaan selain “kebenaran” versi dirinya sendiri. 

Akibatnya, terjadi pertikaian yang justru dilakukan oleh para pelajar yang notabene masih dikategorikan sebagai anak-anak. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada tahun 2015 menunjukan bahwa anak korban kekerasan sebanyak 127, sementara anak menjadi pelaku kekerasan di sekolah 64. Anak korban tawuran 71, sementara anak menjadi pelaku tawuran 88 anak. Ironis.

Kekerasaan ini menurut Teori Sosial Albert Bandura, diakibatkan karena anak-anak mengamati dan meniru perilaku, sikap dan reaksi dari lingkungan sosial terdekatnya. Kekerasan ini justru timbul karena pola asuh yang dicontohkan kepada orang tua kepada para anaknya. Sikap otoriter dan egois dari orang tua, menyebabkan anak tidak menghargai perbedaaan pendapat orang lain, sehingga jalan penyelesaianya dengan cara kekerasaan.

Disinilah tugas keluarga untuk menyemai nilai-nilai kebhinekaan agar anak dapat menghargai dan menerima suatu perbedaan. Tugas ini diimplementasikan dengan menciptakan interaksi dalam keluarga sebagai proses pendidikan yang berkelanjutan, sehingga kedepan akan lahir generasi penentu yang berintelektual tinggi, berakhlak kuat dan yang terpenting melanjutkan merawat kebhinekaan.

Segala bentuk interaksi antara anggota keluarga yang bisa memantik kekerasaan tidak patut dipertontonkan dengan alasan apapun. Oleh karena itu, menanamkan nilai-nilai kebhinekaan dalam keluarga menjadi solusi dari permasalahan kekerasaan anak yang menjurus pada benih primordialisme ini.  Upaya dan cara untuk mewujudkannya adalah, pertama dengan ketauladanan dari kedua tuanya. Ungkapan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menjadi keniscayaan yang tak bisa terelakan. 

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, keteladanan akan berhasil mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Berdasarkan penelitian pada ahli psikolgi, 75 % proses belajar anak didapatkan dari penglihatan dan pengamatan, sementara hanya 15 % dengan indera pendengaran dan lainnya. 

Jadi apabila kita ingin mengajarkan anak sesuatu, maka mulailah dari ucapan dan perilaku orang tua, karena anak-anak adalah peniru yang sempurna dari orang tua. Mendidikan anak sama halnya dengan mendidik diri kita sendiri.

Kedua, selalu kedepankan komunikasi yang dialogis. Anak sejak dini harus dibiasakan dengan tradisi dialog ketika bertemu sebuah perbedaan. Mereka harus disadarkan, bahwa setiap perbedaan tidak selalu ancaman, dan tidak serta merta selalu berujung pertikaian.

Kekerasan tidak mendapat ruang dalam tradisi dialogis ini. Setiap anak akan memiliki cara pandang yang inklufitas dan menghindari sikap eksklusif. Sehingga ini akan membiasakan anak untuk melihat dengan kaca mata dua kutub yang bertolak belakang. Mereka tidak hanya diajarkan “saya yang benar” dan “kamu yang salah”, namun juga menanamkan sikap “kami bertukar pikiran”.

Menghargai anak sebagai manusia “seutuhnya” akan menjadikan anak berkembang sesuai dengan potensinya. Anak selalu diberi kesempatan untuk mengutarakan kehendaknya dan melibatkan dalam mencari solusi pengambilan keputusan. Tentuya dengan batas koridor yang disepakati.

Ketiga, mengenalkan kekayaan multikulutral. Mengajarkan anak tentang keanekaragaman kultur akan menjadi instrument strategis dalam mengembangkan kesadaran anak terhadap kekayaan bangsaanya. Cara ini bisa dilakukan secara fleksibel dengan tetap mengenalkan prinsip multikultural.

Menurut James Banks, pendidikan multikultural ini sebagai wahayan mengenalkan people of color. Artinya mengeksplorasi perbedaan sebagai sebuah keniscayaan dan anugerah Tuhan, sehingga terbentuk manusia budaya.

Dengan mengajarkan anak pendidikan multikultural akan menjadi pondasi bagi negara demokrasi dalam masyarakat yang plural. Pengetahuan sejak dini inilah yang mengantarkan kepada spirit kebhinekaan untuk menghadapi segala tantangan.

Keempat, menanam budaya toleransi. Spirit kebhinekaan mustahil terajadi kalau anak tidak diperkenalkan toleransi sejak dini. Ajarkan kepada semua anggota keluarga untuk menghargai segala macam perbedaan dengan mengajarkan ilmu agama. 

Ajarkan ilmu agama sejak dini untuk jadi bekal yang kuat mengenal Tuhan. Karena orang yang mengenal Tuhan nya dan memahami agamanya tidak mungkin bersikap sentimen dan anarkis terhadap sebuah perbedaan. Dengan budaya toleransi maka akan menjadi vitamin dalam menyikapi kemajemukan ini.

Mulltikulturalisme tanpa toleransi nonsene. Jadi orang tua memiliki peran sentral dan kewajiban berdiri digaris terdepan untuk melawan intoleransi dalam segala bentuknya.

Kelima, ajak anak terjun ke dunia nyata. Mengajak langsung pada realita akan membuat anak merasakan bahwa perbedaan itu indah dan tidak perlu dicemooh atau menentangnya. 

Jika anak kita terbiasa hidup mewah, ajaklah sesekali mengunjungi atau bertemu dengan mereka yang kurang mampu untuk belajar berbagi. Atau ketika anak terbiasa dengan lingkungan kesamaan dengannya –suku, ras, fisik, agama-, maka ajaklah mereka berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang memiliki perbedaan dengannya. 

Keenam, mengawal perkembanga anak. Dalam proses tumbuh kembangnya, orang tua harus selalu sensitif dan responsif. Artinya orang tua harus tahu, kapan waktunya hadir dan kapan waktunya memberikan tanggung jawab kepada anak. 

Misalnya, saat usia anak 10 tahun, perkembangan moral yang masih labil harus diawasi. Karena usia sekolah akan banyak konflik dengan temannya. Artinya sebagai orang tua harus mengajarkan bagaimana menyelesaikan konflik dengan tepat. Mereka wajib  menyelesaikan dengan cara yang baik tanpa pertengkaran. 

Oleh karenanya, memilih sekolah yang tepat menjadi hal krusial. Karena sekolah akan menjadi rumah keduanya. Terutama yang mendukung semangat pemerintah dalam mendidik karakter dan menanam nilai kebhinekaan. Disekolah inilah, peran guru dan lingkungan sekolah menjadi penentu keberhasilan internalisasi kebhinekaan sejak anak memasuki masa sekolah.

Dengan perubahan dunia politik yang tak menentu, dan tantangan global yang terus berkembang, pasti menuntut peran keluarga untuk selalu berkomitmen menjaga dan merawat kebhinekaan dalam setiap elemen keluarga. Dengan enam aspek diatas, minimal, akan mencegah primordialisme sempit, tentunya dengan peran dari semua pihak.

Kita harus belajar untuk saling belajar, dibandingkan anarki saling menghajar. Pelangi indah bukan karena satu warna, tapi karena banyak warna yang berjejer bersama. Oleh karena itu, menanamkan nilai kebhinekaan di dalam keluarga menjadi sebuah kewajiban ditengah kemajemukan bangsa.[]
Tulisan ini dimuat di RMOL.CO bisa dilihat DISINI.

Wednesday, March 28, 2018

Sejarah arifsae Hingga di Approve Google Adsense

arifsae.com - Tanggal 28 Maret 2018 mungkin akan menjadi hari bersejarah bagi blog arifsae.com. Tidak lain dan tidak bukan karena pengajuan Google Adsense yang sudah berkali-kali di tolak dan saya idam-idamkan akhirnya di approve juga, alias disetujui pihak Google Adsense. Senang? Pasti. Bahagia? Tentu.
Email Cinta dari Google Adsense
Ingin sekedar kilas balik sampai akhirnya disetujui pihak Google. Awalnya aneh. Bagimana tidak aneh, karena saya sebetulnya sudah tidak minat lagi dengan Adsense ini, sebenarnya lebih tepatnya karena sudah tidak terhitung penolakan dari Google. Ibaratnya, dalam hati sudah mati rasa dan 'bodo amat'. 

Dulu saya sangat menggebu-gebu ingin blog saya ada iklan dari Adsense. Mungkin kata orang, ketika blog diterima menjadi mitra Google Adsense akan menjadi 'pencapaian' tertinggi seorang blogger. Selain bisa mendapat uang, juga menjadi kebanggaan.

Setidaknya itu persepsiku. Tapi setiap blogger pasti berbeda dalam memandangnya. Namun sebagian besar blogger mungkin akan berfikiran sama. Meskipun tidak besar secara penghasilan (karena memang baru mulai Adsense-nya) tapi setidaknya saya sudah menaklukan 'hati' Google Adsense.

Sekarang, saya tidak akan memberikan tips apalagi trik untuk diterima Google Adsense, karena saya sadar blog saya masih sederhana dan masih banyak blogger yang fokus dan masternya dalam membahas masalah ini. 

Tapi prinsip saya dan cara paling ampuh adalah ketika ditolak 10 kali, coba daftar 11 kali. Itu saja. Tentunya dengan selalu diselingi perbaikan-perbaikan terus menerus dengan memperkaya isi postingan blog kita. 

Saya hanya ingin kilas balik. Setidaknya untuk mengingatkan dan sebagai cambuk saya agar selalu terus menerus menulis. Ya menulis apapun, yang penting menulis saja. Karena dari semangat menulislah blog ini lahir.

Blog ini terkonsep akhir 2012, setidaknya konsep inilah yang menjadi titik awalnya. Karena baru pada awal 2013 blog ini benar-benar lahir. Awalnya hanya iseng, karena sebagian besar hanya menampung isi artikel dan dokumen dari proses perkuliahan. 

Rasanya mubazir ketika sudah susah-susah mengerjakan tugas tapi hanya tersimpan di laptop, makanya saya share saja, setidaknya, untuk berbagi dengan orag lain.

Tidak ada guru khusus dalam dunia blog, apalagi orang per orang. Guru saya adalah pengalaman. Saya bener-benar otodidak dalam dunia blogger. Sama sekali dari nol besar. Dulu saya masih ingat betul, ketika pertama kali punya modem smarfren yang saya beli pada saat proses menyelesaikan perkuliahan. 

Modem itulah yang menjadi fasilitator memperkenalkan dunia blogger. Dan untuk mengisinya kadang harus minta uang orang tua, yang kemudian hari-hari dihabiskan untuk berkutat didalam kamar.

Dari membuat, mengkonsep dan mensetting blog saya brosing sendiri dari Google. Awalnya untuk tampilan saja, sangat sederhana. Bahkan boleh dibilang masih sangat amatir. Masih ingat dengan lebay nya menaruh hiasan-hiasan yang tak ada gunanya. Ada suara musik lah, hiasan salju lah, semut lah, dan macam-macam hiasan tak penting lainnya. Bisa dilhat kan?
Blog Dulu
Menurut saya keren. Dulu. Tapi memang menurut saya sesuai dengan konsep blog saya, awalnya blog saya beri nama Mendidikan Sejarah. Jelas isinya juga berkaitan dengan sejarah, maklum lah kan saya memang mengambil Jurusan Pendidikan Sejarah. Hingga pada akhir tahun 2016 prinsip dalam dunia blogger saya berubah.

Perubahan itu sejak mengikuti lomba blog Mayuh Plesir Maring Banjarnegara. Lomba blog itu merupakan lomba bertaraf nasional yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara. Awalnya hanya iseng, karena sejak 2014 saya juga seorang pemburu lomba, lomba apa saja saya ikuti. Ya cukup banyak juga lomba yang sudah saya menangkan. Tapi untuk lomba blog, belum pernah sekalipun. 

Mujurnya pada lomba itu saya juara 1. Tak disangka, saya menang. Tentunya selain hadiah uang dan menambah teman juga ada hadiah jalan-jalan yang tidak boleh untuk dilewatkan. Dari lomba itulah saya berkenalan dengan para blogger-blogger keren lainnya. Misalkan dari Banjarnegera ada Mas Hendi, dari Kebumen ada Mas Amir dan dari Pemalang ada Mas Eko. Semuanya blogger propesional, dan keren-keren.

Saya juga heran, mengapa saya yang harus juara 1. Tapi kata panitia, mereka tidak melihat blog, tapi isi artikelnya. Dan kalau isi artikel, bolehlah diadu. Seneng sekaligus heran. Tapi dibalik hadiah jalan-jalan dan banyak teman itulah saya mulai berfikir. Blog saya memang harus dirubah. Harus banyak perbaikan sana sini.

Akhirnya, sejak berdiri, dan dari templete saya yang sudah saya pertahankan sejak 2013-2016 saya putuskan untuk di renovasi total. Untuk mencari dan mendapatkan templete yang pas saya pun berburu dan bertanya-tanya kepada kawan, terurama Mas Amir. Dialah yang akhirnya memperkenalkan dengan blogger Arlina Design. Tidak ada yang gratis, kalau mau bagus ya sedikit bermodal. Dan untuk mendapatkan templete yang bagus itu saya membelinya.

Saya masih ingat, harga untuk templete yang responsif dan keren itu adalah 70 ribu rupiah. Dan saya benar-benar membelinya meski waktu itu berat untuk bermodal. Untuk mengatur settingan dan edit HTML blog saya banyak mendapat bantuan dari Pak Anis Lunuwih Wicaksono, rekan kerja sekaligus guru TIK di SMA Negeri 2 Purbalingga. 

Setelah mengatur sana sini, dan tampilan sudah lumayan bagus, saya lanjutkan renovasi blog dengan membeli nama domain. Akhirnya sejak awal 2017, blog saya sudah terbentuk dengan tampilan yang enak dipandang dengan nama domain arifsae.com. 

Setelah puas dengan nama dan tampilan blog, target saya selanjutnya adalah mendaftar ke Google Adsense. Tentunya untuk menampilkan iklan dan dapat penghasilan.

Ternyata tidak semadah itu menaklukan Google Adsene. Pertama ditolak. Perbaiki. Ditolak. Perbaiki. Dan saya sampai lupa berapa kali penolakan itu terjadi. Sampai akhirnya saya mengalihkan perhatian, tidak lagi mengejar Adsense. Saya sudah benar-benar fokus untuk menulis dan berkarya. Itu saja. Menulis dan menulis terus.

Mungkin google kasian, jadi tepat tanggal 28 Maret 2018 pukul 16.46 akun saya diterima. Semuanya berawal dari coba-coba dan dari hasil perbaikan terus menerus yang tak mengenal kata menyerah (padahal si udah, hihi). Anehnya, disaat saya sudah tidak membutuhkan dan tidak mengejar lagi, dia datang. Padahal dulu saya begitu bernafsu untuk menaklukannya. Kaya hati perempuan ya? hihihi...
Penghasilan Hari Pertama
Sekarang, setelah diterima Google Adsense, saatnya berkarya dan menularkan pemikiran. Itulah tujuannya. Dilingkungan saya saat ini, di Sabah Malaysia, setidaknya sudah ada 10  orang yang meminta untuk diajarkan bagaimana untuk menjadi seorang blogger. Dan tentu saja dengan senang hati saya mau berbagi, meski harus berbagi templete yang dulu pernah saya beli. Dan semua yang saya ajarkan gratis, tiss, tissss... Biar Allah SWT saja yang membalasnya.

Mungkin juga karena hal itu pengajuan Adsense saya diterima. Saat ini, Adsense hanya bonus saja, yang terpenting adalah kita mau menulis dan menulis dan menulis lagi. Karena yang tertulis akan di editi, yang terposting akan abadi. Jadi kalian mau ikut jadi blogger dan terus menulis?[]